Tuesday, July 16, 2013

Overthinking

Dunia kerja sesungguhnya telah menjadi sesuatu yang jauh dari apa yang pernah saya bayangkan.

Di umur 5 tahun, melihat seorang wanita dengan setelan blouse dan rok sedengkul disertai sepatu hak tinggi berwarna hitam adalah sosok yang elegan. Wanita itu pekerjaannya seperti apa ya? Pikir saya ketika itu. Saya pun mulai bermain parodi “guru dan murid” dengan kakak perempuan saya. Tentunya, saya berperan sebagai guru. Karena bagi saya, wanita dengan menenteng-nenteng map berisi kertas-kertas yang tidak saya mengerti isinya itu adalah wanita yang tahu segalanya—selalu dicari banyak orang di tempatnya bekerja.

Di umur 10 tahun, saya mulai melihat bayang-bayang wanita dengan setelan seperti itu sebagai wanita yang luar biasa sibuk dengan berpuluh-puluh aktivitas dan kesibukan di kantor. Saya pun mulai berangan-angan agar setelah lulus dari sekolah menengah atas, saya dapat masuk ke universitas ternama saat itu. Bagi saya di umur 10 tahun, memiliki angan-angan seperti itu adalah sesuatu yang keren. Bagaimana tidak, teman-teman sebaya saya pada saat itu berangan-angan dapat bertemu artis idolanya, meski saya yakin mereka tidak paham darimana asal idola mereka saat itu. Ada yang bercita-cita ingin menjadi dokter, sayangnya ia tidak dapat mengikuti pelajaran ilmiah dengan baik, saya hanya dapat tersenyum simpul. Saat itu, pendidikan adalah hal yang paling dapat saya banggakan. Bagi saya, ketika orang (khususnya wanita) dianugerahi otak yang hebat untuk berpikir dan mendapatkan peringkat tinggi di sekolah akan menjadi sukses suatu saat nanti. Perlahan-lahan saya pun mulai mengejar impian kecil saya—menjadi pintar.

Di umur 15 tahun, masa depan terlihat begitu terang. Bahkan karena terlalu terang, saya tidak yakin akan menjadi apa suatu saat nanti ketika saya lulus sekolah—karena cahaya yang terlalu menyilaukan itu. Jika saya diberikan satu lembar kertas dimana saya harus menuliskan sebanyak tiga buah cita-cita terbesar saya, mungkin saya akan membuatnya menjadi sepuluh, lima belas, atau bahkan dua puluh. Saya yakin, begitu lulus nanti, bekal yang saya dapat di sekolah pariwisata akan dapat saya terapkan semuanya. Tentu saja, peringkat tetap saya kejar. Tidak ada lagi yang bisa saya banggakan selain peringkat yang saya raih di sekolah, baik itu pelajaran di kelas maupun di luar kelas. Namun pendidikan tidak lagi membuat saya merasa terjamin akan menjadi sosok wanita yang pernah saya impikan terdahulu—wanita karir.

Perjalanan pun dimulai ketika lulus sekolah, namun impian yang begitu besar runtuh hanya karena adanya ketidakcocokan saya dengan management kantor. Berapa pun alasan yang saya utarakan perihal keluarnya saya dari kantor terdahulu tidak akan dapat dimengerti oleh siapapun. Biar bagaimana pun, resign dari suatu perusahaan tidak membutuhkan alasan konkret. Setiap orang mempunyai hak untuk mencoba peruntungan karirnya di tempat lain. Setidaknya itu yang pernah saya baca. Oleh karena itu, anggap lah saya mengundurkan diri dari perang sebelum semua bom, dinamit, anak panah dan segala bentuk senjata diberikan seluruhnya kepada saya untuk saya action sendiri.

Segalanya runtuh saat itu.

Beralihnya saya dari dunia pariwisata seakan-akan menjadi sesuatu yang menakutkan, seperti dinding tinggi yang harus saya panjat dan ketika saya akan melompat turun ada banyak sekali duri, paku, dan pisau yang menatap dalam diam—menunggu waktu agar tubuh saya menghempas dengan hebat ke tanah.

Bekerja dengan dibayang-bayangi penyesalan bukanlah sesuatu yang mudah. Pekerjaan dan lingkungan baru yang nyaman kadang membuatmu justru menjadi tersesat—semakin jauh dari apa yang kamu bayangkan—kamu impikan. Melalui impian saya yang terdahulu, jalur yang saya tempuh, dan yang saya jalani, sukses menenggelamkan saya pada penyesalan yang lebih dalam. Memikirkan hal agar menjadi sukses secara karir dan finansial menarik diri saya kepada suatu titik nostalgia—depresi.

Di saat seperti ini lah yang membuat saya berpikir, ternyata apa yang selama ini saya pikir—bahwa sukses akan begitu mudahnya saya capai ketika orang itu pintar—tidak sepenuhnya benar. Terkadang orang yang terlalu memikirkan segalanya baik-baik akan semakin takut untuk mengambil langkah berpijak ke depan. Dan situasi seperti ini membuat saya tidak dapat berpikir lebih luas.

Ditambah lagi, tidak ada nya aktivitas luar kantor yang saya geluti. Berada di zona nyaman sungguh tidak menyenangkan bagi saya. Saya merasa tidak berkembang, stuck. Tidak tahu akan dibawa kemana diri kita oleh pekerjaan yang sekarang dan pendapatan yang pas-pasan membuat saya ingin  berontak—ingin mendapatkan yang lebih. Siapa yang tidak ingin di umurnya yang muda sudah mendapatkan kemapanan secara kepribadian dan finansial? Gaji pas-pasan, pengeluaran cukup banyak, ditambah lagi misi saya untuk kuliah suatu saat nanti, dan pengeluaran mendadak yang di luar dugaan, membuat saya semakin jauh dari angan-angan sukses secara finansial.

Pernikahan juga menjadi salah satu hal yang akhir-akhir ini saya pikirkan. Jujur saja, pernikahan adalah urutan terakhir dari hal-hal yang saya khawatirkan setelah karir dan finansial. Bagi saya, pasangan hidup tidak perlu dikhawatirkan. Selama saya membina iman dengan baik, memiliki orang tua yang dapat mengerti saya, serta mapan secara kepribadian dan finansial, masalah jodoh bukanlah menjadi perkara. Namun kemungkinan jika mendapatkan pasangan hidup yang tidak dapat mengerti segala bentuk kesibukan serta diri saya yang tidak dapat lepas dari hidup bersosialisasi, membuat diri saya kembali terperosok pada kekhawatiran yang sama yang saya alami pada karir dan finansial. Tentunya semua wanita ingin memiliki pasangan hidup yang dapat mengerti dirinya luar dalam dan menerima dirinya apa adanya, dalam hal ini, menerima diri saya secara karakteristik dan kebiasaan saya.

Pasangan hidup bukanlah hanya seseorang yang menemani kita dalam suka dan duka, namun bagi wanita, terutama bagi saya, pasangan hidup adalah seorang pemimpin dalam kehidupan berumah tangga. Ketika saya yang secara kepribadian adalah sosok yang cukup dominan namun kerapkali tidak dapat mengatakan “tidak” tentu akan menjadi suatu beban hidup tambahan apabila menjalani hubungan dengan seseorang yang tidak dapat menerima karakteristik saya. Seorang suami yang bersedia memiliki istri yang sukses secara karir, finansial, mapan dalam hal berpikir, dan dominan, tetapi dari segi prinsip tidak dapat mengambil keputusan yang baik dan tidak dapat membina hidupnya sendiri, tentu akan tertekan karenanya. Salah-salah jika tidak kuat secara iman, suami bisa pergi meninggalkan istri karena minder dirinya tidak bisa menjadi pemimpin yang baik. Atau malah, jika suami adalah orang yang terlalu ‘let it flow’ akan terlena dengan kemapanan si istri. Lalu apa makna sebenarnya suami – istri itu, kalau suami cenderung mengikuti istri saja?

Di umur belum mencapai sembilan belas tahun, hal yang saya pikirkan adalah yang seharusnya dipikirkan oleh perempuan di umur dua puluh lima tahun. Siksaan batin menggerogoti diri saya tanpa henti setiap harinya.

Apa beban pikiran ini normal? Maksud saya, normalkah perempuan yang belum mencapai umur sembilan belas tahun memikirkan hal ini? Uang, pekerjaan, pernikahan. Normal kah? Atau hal ini disebabkan oleh pubertas yang terlalu dini?

I haven’t got the answer… yet…
I wish I were not over-thinking.



 ***

Tuesday, April 9, 2013

Part of another new me.


Hello my dearest forgotten blog... I miss you actually.
Gw rindu bagaimana dulu gw menuangkan tulisan apa pun di blog ini. Mulai dari masalah pribadi, postingan-postingan tentang dunia jepang gw, dan postingan absurd lainnya. Bahkan tanpa gw sadari alamat blogger gw ini sudah sangat alay dan membuat gw merinding sampe ke tulang.

But anyway... Udah terlalu banyak kejadian yang terjadi dari terakhir kali gw memposting di blog ini. Begitu banyak kejadian dan pengalaman yang membawa diri gw menjadi Lala yang sekarang, Lala yang semakin membawa banyak perubahan diri dari waktu ke waktu.

Gw ngga tau harus sharing darimana. Maybe apa yang sebenarnya mau gw tuangkan di sini sudah terlalu melampaui batas. Seandainya dibuat novel, mungkin menghabiskan 4 parts semacam Twilight Saga. Dan sebuah sequel yang masih misterius. Hahaha. Agak hiperbola ya?

Singkat cerita, gw udah resign dari Dwidaya Tour per 10 Oktober 2012 lalu.
Yah, panjang detail ceritanya. Yang jelas, gw masuk baik-baik, keluar pun baik-baik. Mereka pun bisa terima alasan gw (sedikit ngga yakin nih dengan hal yang satu ini).
Sekarang gw udah kerja di Lion Air sebagai Marketing. Maybe it will sound a little bit exaggerating kalau menyebutkan position. Di name card sih Marketing Executive, tapi job desk nya ya ngga eksekutif, percayalah. Resminya sudah gabung di salah satu Airlines terbesar di Indonesia ini per 1 November 2012.

Basically, my main job is to prospect to corporates as many as possible to offer a Corporate E-Ticket with Lion Air. Tapi yah, culture di Lion Air yang sedikit abstract menurut gw ini sangat complicated mulai dari pegawai, job desk, position, semuanya. Well, ngga mau cerita terlalu dalam mengenai pekerjaan. Segala pekerjaan yang digeluti selalu ada plus dan minus. Gaji di sini bisa tergolong sangat rendah. Gw akui, karena gw merasa sangat ngga nutup dengan gaji sekian. Tapi yah, disyukuri aja. Toh gw kerja disini berniat mencuri ilmu dan pengalaman, lalu networks.

I believe my efforts will be paid someday.
Ora et Labora.

And then...
I think my heart has also been growing up.

Setelah terjadinya ini dan itu selama gw bekerja di Lion Air, maksud gw, dalam konteks sebuah hubungan antara gw dengan some guys, dan berujung dengan gw menarik diri gw menjauh atau bahkan akhir yang menyedihkan, hati gw jadi lebih kuat, I dunno why

Entah tepatnya kapan, hati gw seakan-akan punya pagar, seolah-olah menjaga rumahnya rapat-rapat supaya kalau ada serangan dari luar, ngga akan langsung menyerang bagian dalam, tapi runtuh di bagian luarnya aja.

I feel so, tired of everything.
I feel so fed up of bullshits.
I am sick of it.
You know?

Seandainya hati gw dibedah, pasti gw udah empati banget sama luka-luka di dalamnya. Saat orang-orang ngga tau apa fungsinya ‘hati’ mereka yang berharga, gw udah merasakan rasanya sakit. Saat orang-orang mulai tau, gw udah lelah akan semua itu. Gw rasa gw tumbuh bukan pada saat yang tepat.

Ngga usah lah gw bahas siapa-siapa aja itu. Cukup jadi memori aja. Memori di kepala ngga akan bisa di-delete begitu aja dan masuk ke recycle bin kemudian benar-benar dihapus keberadaannya. Gw cuma bisa petik hikmah dari semua yang gw alami, supaya bisa membawa gw menjadi diri gw yang lebih baik lagi.

But, thanks buat dia.

Thanks karena udah benar-benar kasih liat gw apa itu rasa sakit yang sesungguhnya. Gw belum pernah ngerasain sakit sesakit itu. Gw udah mengkhianati diri gw sendiri demi dia. Dan meski pada endingnya gw tetap bukan menjadi pilihan, thank you. Dari awal gw tau gw akan sakit. Harusnya hati gw punya telinga, yang bisa denger teriakan otak. Namun dari semuanya, gw belajar, hati gw pun belajar. Hati gw juga seakan-akan tumbuh mata, dia mulai bisa mengenal mana yang bisa menghargai keberadaannya apa adanya, dan mana yang ngga. Pada akhirnya, orang itu adalah tipe orang yang terakhir.

Dan yakinlah, dia hanya menghancurkan pagar yang berdiri lama itu. Dia ngga akan pernah bisa menggapai bagian dalam rumah. Dia masih belum cukup berharga untuk bisa menghancurkan isi rumah itu. Dan gw bersyukur.

Ini air mata pertama dan terakhir untuk dia.
Mungkin Tuhan ngga pernah kasih gw nangis selama gw sama dia atau di depan dia langsung karena Tuhan udah tau dia ngga pantes gw tangisin, bahwa hati gw cukup berharga untuk bangkit, bahwa dengan air mata ini gw benar-benar ikhlas akan apa yang udah terjadi antara gw dan dia, bahwa air mata ini bukan air mata penyesalan, bukan air mata minta belas kasihan.

Ini air mata kemenangan.

Dan dari kemenangan ini, gw jauh lebih tegar.
Dari kemenangan ini, mata gw semakin terbuka lebar.

Dan akhirnya kemenangan itu menggiring gw ke tepian.
Seperti bumi yang bulat, membawa kita ke tempat semula kita berpijak. Gw di bawa lagi ke sosok orang yang sekilas pernah gw tau, orang yang sekilas gw temuin, orang yang sekilas gw denger ceritanya dari salah satu temen gw, orang yang ngga pernah gw sangka akan membawa gw ke tempat ini.
Gw ngga sadar kapan tepatnya orang ini mulai mendominasi isi kepala gw, maybe orang ini dari kecil udah pinter main monopoli. Orang ini aneh, dia ibarat racun. Dengan mudahnya menyebar ke seluruh lapisan mulai dari kulit hingga vena.

Perlahan, gw lupa betapa dalam dan dinginnya laut kosong itu.

Gw mulai merasakan hangat.. seperti halnya bagian laut dangkal yang terkena sinar matahari, kau tahu?

Dari sekian banyak orang, dari sekian banyak pengorbanan yang orang-orang itu lakukan demi memenangkan hati gw, kenapa harus dia?
Kenapa dia, yang notabene adalah mantan dari temen gw sendiri?
Kenapa dengan kalimat demi kalimat yang terucap, segalanya menjadi gelap dan cuma dirinya yang terang di sana?

Gw merasakan gelitik nostalgia yang aneh.

Ada tanda tanya besar di sana.

Dan ibarat magnet, gw tertarik ke dalamnya.

Gw semakin merasakan bahwa ada sesuatu di balik tanda tanya itu.

Dari segalanya yang dia tuangkan ke gw, begitu mudahnya gw merasakan bahwa dia tulus, bahwa dia pun merasakan pahit yang sama sebelumnya, bahwa dia pun lelah akan semua yang terjadi di belakangnya, bahwa dia sadar segalanya ngga akan berakhir happy ending kalau ngga dimulai dengan orang yang tepat, waktu yang tepat, moment yang tepat.

Gw pun mulai masang kacamata kuda, ngga peduli apa yang dia alami dulu, ngga peduli seburuk apa pemikiran orang tentang dia, ngga mengacuhkan segala kemungkinan-kemungkinan buruk kecil kalau suatu saat nanti gw akan sama dia. Semua ketakutan gw alih-alih berubah jadi besi. Gw mulai merasa kuat, mulai merasa yakin.

Dan apakah akan berujung dengan rasa percaya?

Gw pengen tau..
Dia udah sanggup buat gw menepi, apakah nantinya gw kembali masuk ke laut dalam yang gelap, atau justru sebaliknya, membawa gw melihat sisi lain dari dalamnya lautan, bahwa disana ngga hanya ada kekosongan yang membuat gw merasakan dingin...

#NP - I Won't Give Up by Jayesslee.

Thursday, March 15, 2012

FUN photo shoot

Kira-kira seminggu sebelum hari photo shoot, gue bersama temen sekolah bermaksud menjalani hunting foto. Temen gue, Lidia, memutuskan untuk pake tema Valentine's Day. Tentu aja, aura-aura-nya bakalan ngejalanin sesi foto yang bernuansa romantis atau sweet. Sedangkan gue ngga punya outfit bernuansa sweet atau serba pink yang merupakan ciri khas Valentine's Day. Gue coba untuk cari baju-baju lain yang kira-kira cocok sama gue dan tentunya mikirin faktor kenyamanan juga. 


Karena tema Valentine's Day gue yakin ngga akan cocok sama gue, gue memutuskan untuk mengambil tema fashion. Pengetahuan gue tentang fashion bisa dibilang dangkal. Fashion cuma menjadi sesuatu yang menarik bagi gue, tapi ngga (atau belum) sanggup untuk gue ikutin sepenuhnya.


Dibantu sama temen sekelas gue juga, namanya Lisa, yang notabene adalah freelance model yang udah sering kesana-kemari terima job, gue dan Lidia tertolong masalah make up.Bareng temen baik Lisa, Agnes, kami bertiga menjalani sesi foto di mana fotografernya adalah *lagi-lagi* temen sekelas kita juga, Joe


Spot yang kita pakai adalah Eco-Park Ancol.
Pada awalnya, kami diminta untuk melakukan prosedur sesuai peraturan yang berlaku untuk foto sesi. Biaya yang perlu dikeluarin kira-kira Rp 500.000,- sampe Rp 1.000.000,-. Tentu aja kami ngga mau membayar sebanyak itu, lebih tepatnya memang tujuannya gratis. Kami didatangi petugas setempat sebanyak 3x. Mereka pikir bakalan bersifat komersial dan sebagainya. Setelah bicara-bicara, dan bilang kalo temen-temen kita sebelumnya adain photo session di sana ngga pernah dimintain bayaran, akhirnya petugas memutuskan untuk kasih kami foto disana dengan catatan kami harus memindahkan perlengkapan foto, outfit, make up dan sebagainya ke dalam ruang Security biar ngga kelihatan sedang ada photo session.


Setelah foto-foto di Eco-Park, kami pindah spot menuju Le Bridge, Ancol.
Gue sangat sebel dengan foto-foto gue di Le Bridge. 
Pertama, udah pasti di sana 'bocor'. Bener aja, baru menginjakkan kaki di parkiran, kami udah jadi pusat perhatian orang-orang. Kedua, angin pantai kan kenceng banget, otomatis rambut jadi berantakan dan I hate it so damn much... Dengan mau-mau ngga-ngga akhirnya tetep foto-foto juga. 


Here are the photos.....
1. At Eco-Park









2. At Le Bridge



Lidia, Me, Agnes




Friday, January 13, 2012

forgotten dreams

dari awal masuk kelas 12 ini, yang selalu ada di benak gw adalah 'kerja atau kuliah' dan 'sukses atau ngga'..
gw pengen menikmati hidup dengan kerja di sebuah perusahaan atau instansi biasa dengan pekerjaan yang ringan-ringan aja, dapet gaji lumayan, done.
tapi gw merasa ngga puas. karena pengen mencapai target gw yaitu memanfaatkan pendidikan SMK jurusan Usaha Perjalanan Wisata, jabatan yang gw impikan adalah Tour Leader, atau Branch Manager di kantor cabang. gw selalu berputar-putar di sana, di pekerjaan atau dunia kuliah yang berhubungan dengan pariwisata.
memang, setelah ikut beberapa tes, terbukti gw memang bakat di bidang pariwisata, tapi ada 1 hal yang selalu ngikut di hasil tes, yang selalu gw lupakan atau ngga gw anggep ada.


yup, SENI.
setiap kali gw liat di majalah-majalah, berdasarkan tes-tes kecil yang gw ikutin, tes IQ, tes minat bakat sampai ramalan zodiak pun, pasti tertulis kalau gw punya bakat seni atau berpotensi besar di dunia entertainment.


gw selalu menganggap hal itu angin lalu. 
contoh, gw tau gw hobi nyanyi, tapi gw menganggap itu sesuatu yang ngga perlu dipikirkan untuk dijadikan karrier atau media gw menghasilkan uang.
lalu, acting. dari sd gw berangan-angan untuk masuk atau ikut kelas teater. entah lah, gw selalu seneng ngikutin acting orang, baik yang gw liat di drama secara langsung maupun di film-film. tapi lagi-lagi gw anggep itu cuma keinginan si hati kecil semata.


dan yah, sekarang. gw merasa gw bener-bener udah menyia-nyiakan talenta yang Tuhan udah kasih ke gw.
di sela kesibukan belajar untuk ujian akhir dan di sela kegalauan gw apakah gw 'kerja atau kuliah' dan 'sukses apa ngga', si hati kecil dalam diri gw sepertinya bakal meledak protes.


pengen rasanya mengembangkan 2 bakat gw itu. yang bikin gw penasaran akhir-akhir ini adalah apakah gw memang bisa masuk ke seni peran?
bohong kalau di otak gw ngga pernah terbesit pikiran untuk casting. sungguh gw pengen. tapi rasanya negara tercinta gw ini statically dan mostly meninggikan seni perannya di sinetron.
gw pengen banget kayak di Jepang, artis-artis sana banyak yang masuk dunia peran dari kecil, sampe akhirnya mereka sukses karena kerja keras mereka. banyak juga yang memulai dunia entertain mereka khususnya seni peran itu di klub teater, setelah itu panggilan mulai banyak untuk serial drama atau layar lebar.
sama juga kayak hollywood (ya jangan ditanya), mereka mulai bisa dari dunia modelling, iklan, dsb. 
istilahnya, peluang mereka untuk berkembang itu besar dan cepat.


sedangkan yang gw liat di negara ini, sekalinya ngetop di jejaring sosial, ngetop juga di dunia entertain, wtf. 
keliatan jelas perbandingannya sama agnes monica atau nia ramadhani yg dari kecil kerja keras kerja di dunia entertain untuk nghibur orang-orang.


pandangan masyarakat akan artis juga udah miring. artis itu seniman, tapi semakin ke sini artis cuma dianggap sekumpulan orang-orang yang mengambil jalur dunia entertain untuk menyandang kepopuleran dan membuang-buang waktunya untuk menipu atau membodohi masyarakat dengan bualan-bualan dan tayangan ngga berbobotnya. 
naas.


apa gw bisa menyalurkan bakat gw itu?
apa udah terlambat bagi gw untuk mengasah bakat gw?
apa bakat ini harus gw simpan dan gw nikmati sendiri seumur hidup gw?

work hard pray hard.




---end of note---

Friday, January 6, 2012

New Year, New Life

Tahun baru, semangat baru, hidup baru, berkat baru. Thanks God masih bisa merasakan tahun baru dan melewati masa-masa senang dan sedih di tahun 2011 silam. Liburan akhir tahun 2011 kemarin ini seminggu gw habiskan hanya dengan nonton dorama online atau dorama yg gw download. Lalu tanggal 28 Desember malam, gw, marsela, ocha, epen, anton, kevin n stephanus beserta seorang sopir dari Jakarta berangkat menuju Jogjakarta pake mobil. Hmm... terakhir ke Jogja itu saat Jawa-Bali Overland kelas 10. 

Perjalanan yang melelahkan itu menghabiskan waktu 20jam, dari target cuma 16-18jam. Rombongan langsung ke KFC terdekat untuk makan (ngemil sebenarnya). Uang terbuang sia-sia karena makanan yg dimakan mana mahal, ngga mengenyangkan pula. Di Jogja kami ditemenin kerabat papanya kevin, namanya Om Bege. Setelah makan, kami dibawa ke tempat menginap. Kami ngga menginap di penginapan mewah atau bahkan sewa penginapan murah. Dengan modal nol untuk penginapan, kami stay di bekas kantor kerabat papanya kevin or siapalah itu. Yang jelas, tidur lesehan pake tiker busa yang tipis. Wuih, udah satu badan sakit, ditambah 'paduan suara' kevin tiap malem, 'pules' bener tidur gw di sana. Ha-ha. Yah, namanya juga numpang n modal kecil. Jadi kangen nginep di Quality Hotel Jogja atau Sheraton Jogja yang nyaman banget itu.

Makanan jogja asli murah-murah. Ngga salah deh kalo wisata kuliner di sana. Mulai dari nasi kucing yang porsinya memang kyk untuk kucing, sampe nasi porsi sedang + ayam paha empuk + tahu goreng besar + teh yang enak cuma 11.500 rupiah

Di sana kita juga pergi ngunjungin Museum Ullen Sentalu, Gunung Merapi, Pantai Kukub, n Pantai Parangtritis. 
jalan sepanjang gunung merapi

rumah makan Raminten

pantai Kukub

Ngga lupa juga beli oleh-oleh khas Jogja yaitu bakpia. Ke Jogja tapi ngga ngunjungin Malioboro, belum nampol rasanya. Kami belanja di Malioboro sekitar 3 jam di malam hari kemudian kembali ke tempat menginap. Malam tahun baru kami membakar jagung dan pisang, meski terlalu cepat 2 jam, kami menikmati jagung dan pisang bakar yang ala kadarnya itu. Esoknya, tanggal 1 Januari kami pulang ke Jakarta pk. 11.00 WIB. Perjalanan pulang menghabiskan waktu 16 jam. Liburan ala kadarnya yang cukup menyenangkan.

Ngomong-ngomong soal tahun baru, gw udah kelas 3 semester akhir sekarang. Artinya, gw udah harus tau kemana langkah selanjutnya. Kuliah atau kerja. Sungguh pilihan ini berat banget. Gw sangat mau kerja, karena hasrat gw ke sana. Tapi, makin ke sininya, gw jadi pengen kuliah dulu. Kalo kerja, gw bakal bertujuan ke Dwidaya, tempat gw pkl kemarin. Kalo kuliah, gw pengen masuk Universitas Sahid, hanya aja masih bingung mau ambil UPW lagi atau perhotelan. Alhasil, gw cuma bisa berdoa n menjalani aja sebaik-baiknya. Gw harap pilihan terakhir gw nanti ngga salah :)

YOOSHH!!
dalam kurun waktu 10 tahun lagi, gw udah harus sukses dalam berkarrier. Setelah itu, baru mikirin jodoh :D
semoga lancar #amin



---end of note---

Thursday, December 22, 2011

well.. christmas day is almost here.. haha
I think I didn't have sweet memories of christmas day in these past 2 years.. so does this year.
unfortunately, I have to make it fun if the reality doesn't seem that fun.


heuummm
I just remember of this song all of sudden...
I love these lyrics.. :')


An Jing - Jay Chou
zhi sheng xia gang qin pei wo tan le yi tian
shui zhao de da ti qin
an jing de jiu jiu de
wo xiang ni yi biao xian de fei chang ming bai
wo dong wo ye zhi dao
ni mei you she bu de Oh~~
ni shuo ni ye hui nan guo wo bu xiang xin
qian zhe ni pei zhe wo ye zhi shi ceng jin
xi wang ta shi zhen de bi wo hai yao ai ni
wo cai hui bi zi ji li kai
ni yao wo shuo duo nan kan
wo gen ben bu xiang fen kai
wei shen me hai yao wo yong wei xiao lai dai guo ?
wo mei you zhe zhong tian fen
bao rong ni ye jie shou ta
bu yong dan xin de tai duo
wo hui yi zhi hao hao guo
ni yi jing yuan yuan li kai
wo ye hui man man zou kai
wei shen me wo lian fen kai dou qian jiu zhe ni ?
wo zhen de mei you tian fen
an jing de mei zhe me kuai
wo hui xue zhe fang qi ni
shi yin wei wo tai ai ni ..



Silent

The remaining piano with me all day long.
只剩下鋼琴陪我彈了一天
The cello fall asleep. Silent and old.
睡著的大提琴 安靜的舊舊的
I think you show your feel very clearly.
我想你已表現的非常明白
I know & I understant. You leaved without regret
我懂我也知道 你沒有捨不得
You said you'dl be sad,too.But I don't believe that
你說你也會難過我不相信
It is past that I walked hand in hand with you.
牽著你陪著我 也只是曾經
I wish he would love you more than I did.
希望他是真的比我還要愛你
If so, I will leave with reluctance.
我才會逼自己離開
How barrassed I am.I don't want to break up with you at all.
你要我說多難堪 我根本不想分開
Why do you want me face it with smiling.
為什麼還要我用微笑來帶過
Tolerate you and forgive him? I am not good at this.
我沒有這種天份 包容你也接受他
Don't worry about me. I will be fine.
不用擔心的太多 我會一直好好過
You had been far away from me.
你已經遠遠離開 我也會慢慢走開
Why should I accommodate myself to leave you
為什麼我連分開都遷就著你
I don't have the talent to be silent that soon.
我真的沒有天份 安靜的沒這麼快
I will learn to away from you. Beacuse I love you so much.
我會學著放棄你 是因為我太愛你


0

Wednesday, December 7, 2011

learn from experience

"Pengalaman memang sesuatu yang berharga. Entah pengalaman baik maupun pengalaman buruk. Baik pengalaman yang membuat kita melambung tinggi ke atas sana maupun pengalaman hidup yang membuat kita terpuruk hampir menyatu tanah. Alangkah menyenangkannya ketika kita dapat mengambil makna dari setiap detik pengalaman yang kita lewati. Rasa bersyukur akan kita rasakan ketika kita bisa memperoleh hikmah dari tiap-tiap pengalaman hidup kita dan bangkit untuk memulai hari yang baru."

Apa pengalaman itu hanya terjadi begitu saja? Menjadi sebuah memori dari masa lampau yang tidak perlu kita ingat dan ungkit lagi, atau kita kubur dalam-dalam di lubuk hati kita??

Hal ini selalu membayang-bayangi diri gw selama gw hidup 17 tahun lebih.

Yeap, experience.

Tentunya ga bakal ada habisnya kalau gw ceritain semua pengalaman hidup gw. Begitu pula orang lain. Namun ketika ditanyakan pengalaman terpahit dalam hidup, yakinlah hampir semua orang akan inget. Kemungkinan besar, saking banyaknya, orang akan bingung untuk menjelaskan detil dari pengalaman itu sendiri. 

Gw berusaha untuk belajar dari setiap kejadian-kejadian yang udah gw lewati.
Berharap dari semua kejadian itu gw memetik sesuatu, merenungkannya, dan ngga mengulanginya lagi di masa sekarang dan di masa depan.
Tentu ga semuanya selalu sukses. Gw tetep masih manusia yang bisa melakukan salah. 

Hanya saja, ada orang yang dengan sengaja dan sadar membiarkan diri dy statis akan sifatnya yang sekarang tanpa mengindahkan segala pengalaman pahitnya di belakang, atau malah, dy belum pernah sekalipun merasakan apa itu pahitnya pengalaman ketika ga ada orang yang meng'gampar' dirinya.

intermezzo, gw bukan lah sesosok cewek yang dengan mudah percaya akan yang namanya 'sahabat'.
Sekuat apapun gw berusaha meyakinkan diri gw bahwa si anu adalah sahabat gw, semakin gw menemukan bahwa sosok yang namanya sahabat ga ada dalam dirinya.
Dari sekian puluh ribu temen lu, yakinlah hanya sepersekian persen yang bener-bener peduli akan diri lu luar dalem.
Jadi gw memutuskan untuk stop mencari sahabat, tetapi jadilah seorang sahabat bagi orang lain. Berusaha yang terbaik, bukan menjadi diri yang palsu.

Sahabat bukan lah orang yang harus selalu ada untuk lu
Sahabat adalah seseorang yang bersembunyi di saat lu melambung tinggi dan ga napak, yang siap menegur lu saat lu jatuh nanti
Sahabat bukan lah orang yang selalu sehobi dengan lu
Sahabat adalah seseorang yang mampu mengerti segala kondisi yang sedang lu hadapi, meski dia ga 24 jam bersama lu
Sahabat bukan lah seseorang yang selalu mensupport lu dalam segala hal
Sahabat adalah seseorang yang tidak memihak, mengatakan salah jika lu salah, mengatakan benar jika lu benar, menjadi pendengar berikut seseorang yang akan membantu lu menyelesaikan masalah lu
Sahabat bukan lah seseorang yang harus mengerti apa mau lu
Sahabat adalah seseorang yang senantiasa mengingatkan lu akan prioritas dan kebutuhan lu


Mungkin kata-kata gw masih ada yang salah, mengingat gw sendiri ga begitu paham sama yang namanya sahabat. Hanya aja, dari sekian banyak orang, gw hanya bisa menemukan 1-2 sahabat yang gw cerminkan di atas. Dengan jelas gw bisa membedakan, mana yang disebut kenalan, teman, teman dekat/karib dan sahabat.

Back to the topic, experience.
Masalah dalam persahabatan juga udah jadi rusuk tubuh gw. This problems come easily but hard to go. Mulai dari kesalahpahaman sampai fitnah. well, hidup ga mungkin lepas dari masalah kan? Tinggal gimana cara kita menyelesaikannya aja. Kuncinya cuma satu-dua hal.

Pertama, jangan biarkan diri lu kalah oleh emosi. Biarkan diri lu yang menguasai emosi, bukan sebaliknya. Karena kalau menyelesaikan dengan emosi di ubun-ubun, percaya lah, masalah lu ngga bakal ilang, cuma nambah. Karena apa yang masuk ke otak maupun keluar dari mulut itu berlandaskan emosi yang meluap-luap. Tenang, maka lu bisa berfikir dengan jernih.

Kedua, jangan pernah menyelesaikan masalah lewat media tulis. Contoh, sms, bbm, twitter, facebook, chat, etc. Menurut pengalaman pribadi aja, tulisan itu sumber segala masalah. Orang yg lu ajak ngomong beresiko ga sepaham sama maksud lu, dan hanya nambah persoalan baru.  Malah, sebelum lu selesai menjelaskan sesuatu, orang lain akan menyela kata-kata lu dan membuat lu emosi. see? better face to face aja, sekalian lu bisa liat apakah orang itu menghargai lu atau ga dari mata n cara bicaranya. Tentunya langkah kedua ini dilakuin barengan dengan yang pertama.

Sisanya, bicara dengan baik-baik. Biasanya masalah muncul karena adanya sebuah kesalahpahaman, akhirnya merembet kemana-mana. Ini saat yang tepat untuk menjelaskan dari A-Z, dengan kepala dingin dan pikiran terbuka. Pikiran terbuka sangat penting dalam masalah ini. Hey, mana yg lu pilih, jadi brengsek karena jujur lalu masalah terpecahkan atau jadi manusia munafik sepanjang hidup lu? 

Namun tatkala beberapa tindakan kita untuk diam ngga ada salahnya, dengan catatan kita bertekad untuk merubah kebiasaan buruknya suatu saat dan memapah dia menjadi lebih baik.

Hal ini jelas membuat gw merubah sistem pemikiran gw tentang penyelesaian masalah. Dari yang awalnya selalu meledak-ledak n ga mau kalah dalam adu pendapat, gw belajar untuk merendah diri dan berusaha melihat dari 2 sisi, ga dari sisi gw aja.
Penting : berhentilah bicara ketika tidak diperlukan. percaya lah kalau bicara berlebihan, akan menjadi boomerang untuk diri lu suatu saat. 

Pengalaman dalam cinta pun bikin gw banyak belajar.
Jujur lah sebelum semua terlambat, masalah dalam pacaran menjadi masalah berdua, bukan masalah pribadi satu orang aja. Ga bisa ngomong banyak, karena gw ga pernah sukses dalam hal ini *ha-and-ha*
yang jelas, alasan di setiap kali putus, jadikan sebagai alat introspeksi diri kita lebih dalam dan hindari untuk melakukannya sekali lagi saat akan memulai hubungan baru. Jangan sampai lu putus di hubungan berikutnya karena alasan yang sama. Itu berarti diri kita masih belum bisa memaknai pengalaman pahit sebelumnya.

Pengalaman selalu akan menjadi guru terbaik dalam hidup.
Saat terpuruk, bangkit dan berdiri lah, siapkan diri lu untuk menyambut hari baru
Bukan berarti mengubur dalam-dalam pengalaman kemarin, tetapi petik hikmahnya
Jangan memposisikan diri lu terlalu tinggi di atas, karena saat jatuh rasanya akan begitu menyakitkan :)
So, use your experience well ^^


#justmyopinion#



---end of note---